Selasa, 20 Januari 2026

Facing 2026 Bismillah

Tulisan pertama di 2026.

Banyak bersyukurnya Alhamdulillah.

Tapi sedih dengan tangisan pertama anak-anakku. Baru lihat anak nangis sesenggukan sampai jerit-jerit Ibuuuu..Ibuuuuu.. takut banget dikira tetangga aku siksa. Sampai akhirnya Ia tertidur pulas.

Aku gatau harus sharing parenting kemana selain ke Cikgu, guru anak-anakku.

Tadi malam mereka menangis karena mendapati rumah mereka di akun socmed seseorang yang mereka kenal.

Aku pribadi tidak kaget dan sudah menyangka.

Aku pernah memimpikan rumah sebagai tempat kajian. Teman-temanku datang. Sekarang aku ikhlas, rumah kami imut, tapi insya allah terhindar dari fitnah yang menjagaku, karena dekat sekali satpam.

Aku bilang ke teman-teman ngajiku, kalian bergiliran, tapi jangan pernah andalkan rumahku. Mau yoga sendiri saja sulit :))))) 

Entah ya, aku selalu optimis semua itu akan Allah gantikan.

Cikgu bilang, "Anak-anak masih kecil, bu.. nanti kalau mereka besar juga paham".

Nanti, ketika seseorang itu datang. Insya allah anakku sudah paham, Ibu juga butuh seseorang menemani Ibunya dikala sendirian. Seseorang yang tidak melihat kekurangan Ibu sebagai bahan cacian dan gunjingan. Pasangan sesurga yang Allah datangkan, karena Ibu mencoba memantaskan diri.

Seseorang pernah berujar, hatiku busuk. Mungkin memang hati ini bukan untuk dia. Sesakit itu. Dunia bukan lagi urusanku, ada hal yang lebih besar dari itu. Membesarkan anak-anak yang kini menjadi titipanku. Kelak dihisab, setidaknya aku sudah berusaha. 

Tidak adil jika harus aku bandingkan apa yang aku dapatkan, dengan pemilik akun socmed itu. Dia full service, sedangkan aku? Dilepeh seperti kotoran. Ibuku bilang, ga ada harganya anakku.

Aku cuma manusia yang banyak kurangnya, yang  bahkan tidak pantas merasakan bahagia. Bahagiaku hanya melihat anakku bahagia. Setiap kali liburan, yang ada cuma sendirian. Aku tidak suka cari perhatian. Berjalan sendiri juga tidak apa, yang penting Allah ridho. Kita berjalan layaknya manusia normal. Allah datangkan ke bumi, untuk selalu sabar. 

Saldoku yang tidak seberapa ini, hanya kugantungkan diriku hanya pada-Nya. entah hanya cukup berapa hari. Ya Allah yang penting bensinku penuh terisi, bisa bayar listrik, sewa rumah dan cicilan, makan sih bisa di rumah Ibu =))))))))

Sepertinya aku harus mulai membuat CV, barangkali besok akhi-akhi datang mengajakku halal di Haramain. Ah rindu sekali. Tinggal disana pun aku siap. Membesarkan calon Ulama, membesarkan penghafal Al Quran.

Tidak terasa sudah 2 tahun lebih tanpa nafkah, tapi rezekinya karena banyak pujian. Lucu banget Bu Enggal tetangga lamaku bertemuku sekali saja, asisten rumah tangganya bilang, dia memujiku berhari-hari. Masya Allah. "kenapa ngga dari dulu sih mbaak kaya gini".. hahaha sulit dijelaskan.

Cikgu Tc Any, Mba Yuly, Risty, Dewi, Mba Acied, Mba Tita, Miyo.. kalian rezekiku. Till Jannah ya

Ibu-ibu sekolah yang lain, terima kasih sudah menjadi tempat aku membuang emosiku. Kalian paham betul rasanya. Nggak sabar  memberitakan kalian banyak berita bahagia dariku. Aku lelah dengan segala hal-hal negatif.